Artikel saya kali ini dikutip dari status FB seorang teman lama, Rahma Nurjana yang saat ini telah menjadi downline saya. Status Ira (panggilan akrab Rahma) tersebut mengingatkan saya akan artikel saya sebelumnya, Janji Membahagiakan Ibu, yang sedikit banyak hampir mirip ceritanya. Saya dan Ira adalah teman sekolah di Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMTI) Padang, kami hampir senasib sepenanggungan hidup di Padang, jadi anak kost jauh dari orang tua.

Berikut kutipan status FB Ira:

Dalam hidup ini tidak ada yang tidak mungkin. Saya mungkin hanya segelintir orang yang masa lalunya tak seindah anak lainnya. Sempat merasakan enaknya menjadi anak dari seorang ayah yang pegawai negeri, kemudian berubah 180 derajat menjadi anak seorang petani yang miskin. Tapi saya selalu bermimpi untuk keluar dari keterpurukan. Senang membaca menjadikan saya mempunyai impian yang sangat besar. Rajin membaca membuat hidup saya berubah, karena dari sana saya diperkenalkan menulis dan berani mengambil resiko seberat apapun dalam hidup ini.

Mungkin, sebagian orang sekolah ke Padang akan diperkenalkan dengan setengah kemandirian. Tapi saya, sekolah ke Padang benar-benar untuk mandiri. Bertahan hidup dengan kiriman dari Angku (mamak/paman-red) untuk 3 tahun, dan diperkenalkan untuk tidak tahu kemana akan pulang kampung. Rumah saya yang di tengah hamparan sawah sudah bukan milik kami lagi. Mama pun terpaksa harus ke Jakarta. Tinggallah saya di Padang, tanpa sanak keluarga yang bisa dikunjungi. Dan kadang keberuntungan tidak selalu dibungkus kain sutera, keberuntungan saya dibungkus koran bekas pembungkus ikan teri. Di sanalah saya belajar untuk hidup dan bertahan…..

Tiga tahun setelah tamat SMTI, adalah perjuangan tersendiri bagi saya. Mengambil resiko untuk melanjutkan kuliah, tanpa kiriman uang yang pasti dari siapapun. Hanya kiriman ayah yang datangnya tidak rutin setiap bulan. Tapi itulah hidup yang harus dilalui. Berani bermimpi besar membawa saya kuliah 2 kali di universitas yang berbeda tanpa bantuan kiriman uang dari keluarga.

Saat ini mimpi besar saya adalah sukses di bisnis Oriflame jaringan Sri Ida Oktivira. Saya yakin, saya pasti bisa. Ingin bergabung dengan saya? Ayo inbox. Mari kita wujudkan bersama mimpi besar itu.

Ira dan anaknya

Ira dan anaknya

Status di atas saya kutip apa adanya dan berikut beberapa fakta yang bisa saya simpulkan:

  1. Masa sekolah kami di SMTI harus kami lalui dengan penuh perjuangan untuk berhemat dan mandiri.
  2. Setelah tamat SMTI saya memutuskan untuk kerja magang di Jepang agar bisa menabung biaya buat kuliah dan Ira melanjutkan kuliah dengan biaya yang belum pasti dari mana.
  3. Sekarang Ira masih berdomisili di Padang dan saya di Bogor, tapi kami punya mimpi besar yang sama untuk sukses bersama di bisnis Oriflame.

Anda tidak perlu merasakan jalan hidup seperti kami untuk ikut sukses di bisnis Oriflame, cukup klik banner di bawah ini dan isi form yang ada.

Kata kunci pencarian:
  • kisah rahma nurjana di oriflame (3)

Sri Ida Oktivira

Seorang Ibu Rumah Tangga yang menjalankan bisnis Oriflame secara online dari rumah saja. Alhamdulillaah... bisa untuk membantu membahagiakan orang-orang yang saya cintai.